Kamis, 26 Agustus 2010

Sejarah Masuknya Islam Ke Indonesia

Ketika lagi buka2 file lama, saya nemu sesuatu yang menarik di komputer saya, saya nemu file tugas saya ketika saya kelas dua(2) smu. Tugasnya adalah resensi buku, berikut saya post bagian pembahasan materinya...

1. JUDUL BUKU : MENEMUKAN SEJARAH -Wacana Pergerakan Islam di
Indonesia-
2. PENGARANG : Ahmad Mansur Suryanegara
3. PENERBIT : Penerbit Mizan
4. BENTUK : Karya ilmiah tulisan
5. CETAKAN : Cetakan III, Januari 1996
6. TEBAL BUKU : 335 halaman
7. GAMBAR KULIT : Bendera Merah Putih dengan latar berbagai macam lambang ormas Islam


*Pemantapan Kesadaran Sejarah Lokal

Barangkali dewasa ini masih terlihat adanya sejarawan yang masih belum memahami makna sejarah Indonesia sebagai peristiwa sejarah yang menempati ruang seperenam lingkaran bumi. Dan barangkali masih ada yang menilai sejarah Indonesia sebagai sejarah lokal, bukan sebagai sejarah internasional.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, hubungan kontak antar Indonesia dengan bangsa luar, yang terjadi sekarang ini disebutkan di daerah atau lokal, padahal dahulu merupakan kerajaan atau kesultanan. Maka tak dapat disangkal lagi bahwa sejarah lokal yang menuturkan peristiwa sejarah di daerah, mungkin pula untuk dikategorikan sebagai sejarah internasional.
Hal lain yang perlu diperhatikan, adalah sistem periodisasi. Misalnya, periodisasi zaman Hindu, padahal pada masa tersebut berkembang pula Budha dan Islam. Jadi, dari realitas fakta di atas, pembagian periodisasi dengan penamaan yang spesifik, akan memberikan gambaran gerak sejarah yang diskontinyu. Apakah Periode Pemerintahan Kolonial, diartikan telah hilangnya kekuatan politik pribumi yang masih ada, hanya dinilai tidak ada dari sisi pandangan Barat. Hal ini terjadi akibat sejarah lokal belum mendapatkan tempat yang layak, sehingga periodisasinya tidak tepat. Informasinya belum merata, dan porsi penulisannya tidak seimbang.

*Masuknya Islam ke Nusantara

Tulisan ini tidak bermaksud membicarakan masuknya Islam ke setiap pulau di Nusantara, melainkan hanya menitikberatkan pada masuknya Islam ke pulau Sumatra dan Jawa, karena kedua wilayah ini dinilai sebagai sampel bagi wilayah Nusantara lainnya.
Ada tiga teori yang menganalisis tentang masuknya Islam ke Nusantara, Teori Gujarat, Teori Mekkah dan Teori Persia. Ketiga teori tersebut mencoba memberikan
jawaban permasalahan tentang masuknya agama Islam ke Nusantara, dengan perbedaan pendapatnya: Pertama, mengenai waktu masuknya agama Islam. Kedua, tentang asal negara yang menjadi perantara atau sumber tempat pengambilan ajaran agama Islam. Ketiga, tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.

Teori Gujarat
Teori ini dinamakan Teori Gujarat, bertolak dari asal negara yang membawa Islam ke Nusantara. Adapun peletak dasar teori ini kemungkinan besar adalah Snouck Hurgronje, dalam bukunya L’Arabie et les Indes Neerlandaises, atau Revue de l’histoire des Religious, jilid Ivil.
Hurgronje menitikberatkan pandangannya ke Gujarat berdasarkan: Pertama, kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran agama Islam ke Nusantara. Kedua, hubungan dagang Indonesia-India telah lama terjalin. Ketiga, inskripsi tertua tentang Islam yang terdapat di Sumatra memberikan gambaran hubungan antara Sumatra dengan Gujarat.
Pandangan Snouck Hurgronje ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap para sejarawan Barat, dan berpengaruh juga terhadap sejarawan Indonesia. Teori Gujarat umumnya menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13. Pendapat ini berdasarkan bukti batu nisan Sultan pertama dari Kerajaan Samudera Pasai, yakni Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada 1297. Pendapat yang mengatakan bahwa nisan di Pasai tersebut becorak Hinduistis semakin menguatkan Teori Gujarat(India). Selain itu ajaran mistik Islam yang berkembang di Nusantara diakui dikembangkan oleh orang-orang India yang telah memeluk Islam.
Dari berbagai argumen Teori Gujarat yang dikemukakan oleh beberapa sejarawan, terlihat bahwa analisis mereka bersifat Hindu Sentris, karena beranggapan bahwa seluruh perubahan sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama di Nusantara tidak lepas dari pengaruh India.

Teori Mekkah
Teori Gujarat mendapat kritik dan koreksi dari Hamka yang melahirkan teori baru, yakni Teori Mekkah. Hamka menolak pandangan yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 dan berasal dari Gujarat. Hamka lebih mendasarkan pandangannya pada peranan bangsa Arab sebagai pembawa agama Islam ke Nusantara. Gujarat dinyatakan sebagai tempat singgah semata, dan Mekkah sebagai pusat, atau Mesir sebagai tempat pengambilan ajaran Islam.
Analisis Hamka berbeda dengan sejarawan dan orientalis Barat, dengan menambahkan pengamatannya pada masalah Mazhab Syafi’i, sebagai mazhab yang istimewa di Mekkah dan mempunyai pengaruh yang terbesar di Nusantara. Hal ini tidak dibicarakan secara mendalam oleh sejarawan Barat sebelumnya.
Selain itu, Hamka menolak pendapat yang menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13, karena di Nusantara pada abad ke-13 telah berdiri kekuatan politik Islam, yaitu kerajaan Samudera Pasai. Dan menurutnya tidak mungkin dalam waktu singkat setelah kedatangannya umat Islam telah mampu membangun sebuah kekuatan politik. Jadi masuknya agama Islam ke Nusantara menurut Hamka tidak terjadi pada abad ke-13, melainkan jauh sebelum itu, yaitu pada abad ke-7.
Pendapat ini didasarkan pada peranan bangsa Arab dalam perdagangan di Asia yang dimulai sejak abad ke-2 SM. Peranan ini tidak pernah dibicarakan oleh para penganut Teori Gujarat. Tinjauan Teori Gujarat menghapuskan peranan bangsa Arab dalam perdagangan dan penguasaan lautan, yang telah lama mengenal Samudera Indonesia daripada bangsa-bangsa lainnya. Dari ahli geografi Arab seperti Abu Zaid Al- Balkhi(934), Ibnu Hauqal(975), dan Maqdisi(985), kita mendapatkan informasi tentang peta bumi yang telah dimiliki oleh bangsa Arab, yang di dalamnya terdapat Samudera Indonesia.
Kalau kita perhatikan fakta sejarah ini, bangsa Arab telah memiliki peta bumi yang dilengkapi dengan Samudera Indonesia, dan menguasai jalur laut menuju Nusantara, sehingga tidaklah mengherankan bila pada tahun 674 telah berdiri perkampungan Arab Islam di pantai Barat Sumatra. Selain itu, fakta tersebut memberikan informasi tentang telah terjadinya hubungan Nusantara-Arab jauh sebelum abad ke-13. Oleh karena itu sukar kiranya untuk dimengerti mengapa pendukung Teori Gujarat, hanya melihat India-Nusantara dengan menghapuskan peranan Arab dalam perdagangan lautnya, termasuk penguasaan jalur laut ke Nusantara.
Kalau kenyataan sejarah semacam ini kemudian dianggap tidak pernah terjadi, artinya adanya peranan bangsa Arab atas bangsa Indonesia tidak ingin diakui oleh para sejarawan dan orientalis Barat. Mereka lebih cenderung memperbanyak informasi tentang hubungan India-Nusantara. Apakah target informasi sejarah yang bersifat Hindu Sentris adalah untuk menanamkan kecintaan intelektual Indonesia terhadap sejarah pra-Islam di Nusantara?. Kalau target pengaruh informasi sejarah adalah sikap politik kalangan intelektual Indonesia, tepatlah peringatan Hamka terhadap pandangan Snouck Hurgronje yang bertujuan menentang pengaruh Arab yang ditemuinya dalam perang Aceh.
Disamping dibawa oleh para pedagang Arab, Hamka juga menyatakan orang-orang Nusantara mengambil inisiatif untuk belajar dengan berlayar ke Cina, Hindustan, Laut Merah, Pantai Jeddah, bahkan sampai membangun negara baru di Malagasi (Madagaskar). Dengan keterangan ini, Hamka mencoba menginformasikan kemampuan penguasaan laut orang-orang Nusantara pada saat itu. Hal ini biasanya tidak didapatkan pada penulisan sejarah oleh pemerintah kolonial Belanda, sehingga terbaca bangsa Indonesia sebagai bangsa yang pasif dan tidak bergerak keluar.Hal ini tentunya sejalan dengan politik kolonial yang tidak ingin mental bangsa jajahannya terangkat.

Teori Persia

Teori Persia lebih menitikberatkan tinjauannya pada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dirasakan mempunyai persamaan dengan Persia. Kesamaan kebudayaan itu antara lain:
Pertama, peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan syi’ah atas kematian Husain. Biasanya diperingati dengan membuat bubur Syura. Di Minangkabau bulan Muharram disebut juga bulan Hasan-Husain.
Kedua, adanya kesamaan ajaran antara ajaran Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran Al-Hallaj, sekalipun Al-Hallaj telah meninggal pada 310H/922M, tetapi ajarannya berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga memungkinkan Syaikh Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya.
Ketiga, penggunan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab, untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian Al-Qur’an tingkat awal.
Teori Persia mendapat tentangan dari berbagai pihak, karena bila kita berpedoman kepada masuknya agama Islam pada abad ke-7, hal ini berarti terjadi pada masa kekuasaan Khalifah Umayyah. Sedangkan, saat itu kepemimpinan Islam di bidang politik, ekonomi dan kebudayaan berada di Mekkah, Madinah, Damaskus dan Baghdad. Jadi, belum memungkinkan bagi Persia untuk menduduki kepemimpinan dunia Islam saat itu.

*Masuk dan Meluasnya Islam di Jawa Barat

Masuknya Islam ke Jawa Barat diyakini tidak lepas dari pengaruh perniagaan para pedagang Arab Islam. Mereka ini memperdagangkan rempah-rempah yang berasal dari Maluku dan Banten, jadi mereka pasti pernah singgah di salah satu pelabuhan di Jawa Barat, baik Banten, Cirebon maupun Sunda Kelapa.
Pertimbangan lainnya adalah, peranan Jawa Barat yang telah dirintis sejak adanya kekuasaan politik Taruma Negara pada abad ke-5, memberikan kesan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah tertua di Jawa yang memegang peranan perdagangan, mustahil bila pada abad ke-7 tidak berbicara dalam perniagaan.
Proses penyebaran Islam di Jawa Barat lebih banyak dikisahkan melalui gerbang Jawa Barat yakni Cirebon. Sebagai mana masuknya Katolik melalui pelabuhan Sunda Kelapa, besar kemungkinan masuknya Islam juga datang dari sebelah Barat Indonesia. Untuk di Jawa tidak diragukan lagi pasti melalui gerbang barat: Sunda Kelapa dan Banten.

*Rasionalisasi Kisah Sejarah Walisongo

Kisah sejarah Walisongo sebagai tokoh penyebar ajaran Islam di Indonesia, selalu dikaitkan dengan hal-hal yang kurang rasional, bahkan lebih dekat dengan ajaran yang tidak Islami.
Barangkali kisah yang banyak beredar di masyarakat bersumber dari penulis yang menentang Islam, karena kecenderungan para ulama yang kurang memperhatikan penulisan sejarah. Kelemahan ini menjadi penyebab utama kenapa kisah sejarah mereka banyak ditulis oleh penulis yang bukan beragama Islam.
Para wali seringkali dikisahkan melakukan hal-hal mistik dan irasional, seperti bertapa ditepi sungai berpuluh-puluh tahun. Tidakkah cara itu bertentangan dengan syari’at Islam?. Hal itu justru lebih dekat dengan ajaran Hindu yang mengajarkan sistem pertapaan. Sudah seharusnya kita lebih kritis dan tidak menerima begitu saja penulisan sejarah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pemilihan Wilayah Dakwah

Para wali, meskipun masing-masing tidak hidup sezaman, tetapi dalam pemilihan wilayah dakwahnya tidak sembarangan. Penentuan tempat dakwahnya mempertimbangkan pula faktor geostrategi yang sesuai dengan kondisi zamannya.
Mereka memilih pulau Jawa karena mereka melihat Jawa sebagai pusat kegiatan ekonomi, politik dan kebudayaan di Nusantara pada saat itu. Sebagai pusat perniagaan, tentunya Jawa banyak dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari luar Jawa, sehingga diharapkan para pedagang inilah yang nantinya akan menyebarkan ajaran Islam di daerah asal mereka.
Kalau kita perhatikan dari kesembilan wali dalam pembagian wilayah dakwahnya, ternyata mereka membagi wilayah Jawa dengan rasio 5:3:1.
Jawa Timur mendapat perhatian besar dari para wali. Di sini ditempatkan 5 wali, dengan pembagian teritorial dakwah yang berbeda. Maulana Malik Ibrahim, sebagai wali perintis, mengambil wilayah Gresik. Setelah beliau wafat, wilayah ini dikuasai oleh Sunan Giri. Sunan Ampel mengambil posisi dakwahnya di Surabaya. Sunan Bonang di Tuban. Sedangkan Sunan Drajat di Sedayu.
Kalau kita perhatikan posisi wilayah yang dijadikan basis dakwah kelima wali tersebut, semuanya mengambil tempat “kota bandar” atau pelabuhan. Pengambilan posisi pantai ini adalah ciri Islam sebagai ajaran yang disampaikan oleh para da’i yang berprofesi sebagai pedagang.
Berkumpulnya kelima wali ini di Jawa Timur adalah karena kekuatan politik saat itu berpusat itu berpusat di wilayah ini. Kerajaan Kediri di Kediri dan Majapahit di Mojokerto.
Di Jawa Timur para wali terlihat sebagai penyebar Islam yang berdagang. Artinya tidak seperti yang banyak digambarkan oleh “dongeng” yang memberitakan kisah para wali sebagai “bhiksu”, atau lebih banyak beribadah semacam bertapa di gunung daripada aktif di bidang perekonomian. Ternyata dinamika kehidupannya lebih rasional seperti halnya yang dicontohkan oleh Rasulullah yang juga pernah berdagang.
Di Jawa Tengah para wali mengambil posisi di Demak, Kudus dan Muria. Sasaran dakwah para wali yang di Jawa Tengah tentu berbeda dengan para wali di Jawa Timur. Di Jawa Tengah dapat dikatakan bahwa pusat kekuasaan politik Hindu dan Budha sudah tidak berperan lagi. Hanya para wali melihat realitas masyarakat yang masih dipengaruhi oleh budaya yang bersumber dari ajaran Hindu dan Budha. Dan mereka melihat bahwa wayang sebagai media komunikasi yang memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat. Oleh karena itu, wayang perlu dimodifikasi, baik bentuk maupun isi kisahnya perlu diIslamkan.
Penempatan para wali di Demak, Kudus dan Muria ternyata tidak hanya ditujukan untuk penyebaran Islam di Jawa Tengah semata, tetapi untuk kawasan Indonesia Tengah seluruhnya. Saat itu, pusat kekuatan politik dan ekonomi memang sedang beralih ke Jawa Tengah. Dengan runtuhnya Majapahit akibat serangan dari Kediri (1478) dan munculnya Kesultanan Demak yang nantinya melahirkan Kesultanan Pajang dan Mataram II. Perubahan kondisi politik seperti ini, memungkinkan ketiga tempat tersebut mempunyai arti geostrategis yang menentukan.
Di Jawa Barat, proses Islamisasi hanya ditangani seorang wali, Syarif Hidayatullah, yang setelah wafat dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Pada saat itu, penyebaran ajaran Islam di wilayah Indonesia Barat, terutama di Sumatra dapat dikatakan telah merata bila dibandingkan dengan kondisi di Indonesia Timur. Seperti sekarang hal yang semacam itu masih dapat kita saksikan kenyataannya.
Adapun pemilihan kota Cirebon sebagai pusat aktivitas dakwah Sunan Gunung Jati, tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan jalur perdagangan rempah-rempah sebagai komoditi yang berasal dari Indonesia Timur, atau pun ke Indonesia Barat. Oleh karena itu, pemilihan Cirebon dengan pertimbangan sosial, politik dan ekonomi saat itu, mempunyai nilai geostrategis, geopolitik dan geoekonomi yang menentukan keberhasilan penyebaran Islam selanjutnya.


*Masa-Masa Perlawanan Bersenjata Terhadap Imperialis Barat

Abad ke-16 sering disebut sebagai Discovery of the East (Penemuan Timur) oleh sejarawan Barat, mereka menuliskan bahwa Portugis menemukan Tanjung Harapan, Spanyol menemukan Amerika dan lain sebagainya. Mereka menulis seolah-olah merekalah yang pertama kali datang ke tempat tersebut, seolah-olah merekalah satu-satunya bangsa beradab yang melakukan penjelajahan lautan. Padahal orang-orang Asia sering melewati tempat tersebut, tetapi mereka tidak pernah menuliskannya sebagai yang pertama.
Sekalipun demikian, sebagian sejarawan masih mau menuliskan bahwa Portugislah penemu Tanjung Harapan dan Spanyol penemu Amerika. Selain itu sebagian sejarawan juga menuliskan bahwa kedatangan Portugis ke Asia adalah untuk berdagang, pandangan yang demikian ini keliru, karena kenyataannya kedatangan Portugis ke Asia dengan kapal kosong. Kapal ini diisi dengan batu, guna mencegah agar tidak terlalu oleng. Mereka juga memperlengkapi kapal mereka dengan meriam, itulah sebabnya lebih tepat jika kedatangan Portugis ke Asia adalah untuk merampok ketimbang berdagang.
Karena pada abad ke-16 Nusantara telah dikuasai oleh Islam, maka Portugis berhadapan dengan perlawanan umat Islam. Pertama, walaupun Porugis berhasil menguasai Malaka, tetapi usaha melumpuhkan Kesultanan Demak mengalami kesukaran. Sekalipun saat itu Portugis mendapat bantuan kerjasama dari Kerajaan Hindu Pajajaran, dan berhasil mendirikan benteng di Sunda Kelapa sejak 21 agustus 1522, namun kelanjutannya dapat dipatahkan oleh Fatahillah.
Kedua, pembangunan pangkalan Portugis di Sunda Kelapa dirasakan oleh umat Islam sebagai jepitan penjajah Katolik yang mengancam Kesultanan Demak, dari barat Portugis di Sunda Kelapa dan dari timur Spanyol di Manila. Oleh karena itu, adanya Portugis di Sunda Kelapa dirasakan merupakan ancaman terdekat sesudah Malaka bagi Kesultanan Demak.
Merebut kembali Sunda Kelapa bukanlah pekerjaan yang mudah. Kesultanan Demak tidak langsung melancarkan serangan ke Sunda Kelapa, tetapi terlebih dahulu mematahkan kekuatan penunjang Kerajaan Pajajaran, yakni kedua pelabuhannya: Banten dan Cirebon. Setelah kedua pelabuhan dagang ini dikuasai barulah dilaksanakan penyerangan ke Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527. Jadi baru lima tahun kemudian .

*Akibat Agresi Militer dan Agama

Islam sebagai agama dalam sejarahnya tidak pernah dikembangkan melalui agresi militer ataupun agama, melainkan dilaksanakan dengan jalan damai. Tetapi saat itu umat Islam menghadapi kenyataan yang tidak dapat dihindarkan. Portugis secara tiba-tiba melancarkan serangan militer dan agama Katoliknya di Malaka dan Nusantara. Serangan yang demikian ini diikuti oleh Spanyol dari Indonesia Timur atau dari wilayah Filipina. Sudah tentu situasi ini memaksa umat Islam untuk memberikan jawaban yang tepat. Serangan Portugis yang merusak kerukunan beragama, dijawab dengan angkat senjata.
Serangan Portugis ke Asia Tenggara yang berharap mendapatkan rempah-rempah, emas, kemegahan dan penyebaran agama Katolik, ternyata berbalik. Tujuan semula adalah untuk menghancurkan kekuatan politik dan kebudayaan Islam, tetapi dalam kenyataannya agresi Portugis ke Nusantara justru mendorong menciptakan suasana yang memungkinkan raja-raja Nusantara memeluk agama Islam.
Tingkah laku Portugis yang mengkombinasikan penyebaran agama, dagang dan peperangan di Asia Tenggara ini dilihat sebagai sesuatu yang sangat aneh, karena di Asia Tenggara tidak pernah terjadi penyebaran agama dengan peperangan. Oleh karena itu, kedatangan Portugis ke Asia Tenggara dinilai sebagai tindakan yang mengancam kelestarian kehidupan beragama dan perdagangan yang damai. Para bangsawan dan raja sebagai pengusa perdagangan juga merasa terncam dan memihak kepada Islam sebagai agama rakyatnya saat itu.
Di samping itu, akibat serangan tersebut, Kesultanan Demak dengan bekerjasama dengan kesultanan lainnya berhasil menutup laut Indonesia dari kapal-kapal Portugis. Akibat serangan Portugis, ternyata kekuatan politik Islam saat itu malah bersatu dan keberhasilan merebut kembali Sunda Kelapa ke tangan Islam berhasil mengamankan Nusantara dari usaha penjajahan Portugis selama 200 tahun. Hanya satu wilayah Indonesia yang lemah yang dapat dikuasai Portugis, yakni Timor-Timur, karena disini belum berdiri kekuatan politik Islam.

*Islam Dalam Kebangkitan Nasional

Menurut George Mc Turnan, dalam Nationalism and Revolution in Indonesia, tiga faktor terpenting yang mempengaruhi terwujudnya integritas nasional adalah: Pertama, agama Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia. Kedua, agama Islam tidak hanya mengajari berjamaah, tetapi juga anti penjajah. Ketiga, umat Islam menjadikan bahasa Melayu sebagai senjata pembangkit kejiwaan yang sangat ampuh, dalam melahirkan aspirasi perjuangan nasionalnya.
Sejarah yang demikian itu tidak mendapatkan tempat layak dalam Sejarah Nasional Indonesia. Dituliskan bahwa pelopor Gerakan Nasional adalah Budi Utomo, 20 Mei 1908. Realitas sejarah Budi Utomo sangat bertentangan dengan ketetapan kepeloporannya. Fakta sejarah menuliskan Budi Utomo menolak persatuan Indonesia, dalam kongresnya bulan April 1928. Jadi, setelah 20 tahun Budi Utomo masih tidak mampu memahami perjuangan bangsa Indonesia. Penolakan yang demikian itu diikuti pula dengan penolakan bahasa Indonesia. Kalangan pimpinan Budi Utomo lebih menyukai bahasa Jawa atau Belanda. Slamet Muljana dalam Nasionalisme Sebagai Modal Perdjoeangan Bangsa Indonesia, menyatakan bahwa selama 23 tahun Budi Utomo bersikap eksklusif, berada di luar perjuangan Pergerakan Nasional.
Sebaliknya Sarekat Islam justru mempelopori memasyarakatkan istilah nasional, melalui Kongres Nasional Central Sarekat Islam di Bandung pada 1916. Padahal istilah nasional baru digunakan oleh PNI sebelas tahun kemudian, ketika PNI didirikan di Bandung pada 1927.
K.H Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah yang dibangun pada 18 Nopember 1912, mempelopori pembaruan sistem pendidikan. Muhammadiyah dibangun sepuluh tahun lebih awal daripada Taman Siswa (1922) yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara. Muhammadiyah sendiri diakui jauh lebih berpengaruh di tengah rakyat daripada Budi Utomo. Hal yang demikian ini dapat dipahami, karena Budi Utomo memang merupakan organisasi ningrat yang tidak membuka dirinya untuk rakyat jelata.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar